Krisis ekonomi dan public health emergency, itulah pandemi virus corona. Banyak hal yang terjadi selama satu tahun belakangan ini, mulai dari lockdown, PHK, dan tindakan publik besar-besaran yang dilakukan untuk memutuskan rantai penularan tak habis-habis dilakukan. Dampak besar-besaran yang ditimbulkan menyebabkan perubahan gaya hidup mendadak melalui social distancing dan #stayathome. Untuk tetap menjaga kesehatan kita selama pandemi ini dibutuhkan tidak hanya pengetahuan para pakar mengenai kesehatan dan ilmu biologi tetapi kita juga harus beralih dari gaya hidup konvensional menjadi new normal lifestyle yaitu gaya hidup sehat yang ketat.
Dengan
lebih dari 700 ribu kasus yang terinfeksi, virus Corona adalah ancaman global
yang menyebar seperti api dan menggemparkan dunia. Pandemi telah mengubah hidup
kita, lockdown, social distancing yang ketat, isolasi diri, menggunakan
masker, dan bekerja dari rumah telah menjadi kebiasaan baru. Secara global,
COVID-19 telah menghancurkan ekonomi, menantang sistem kesehatan negara-negara,
dan mengganggu kehidupan sehari-hari masyarakat dengan cara yang tidak pernah
dibayangkan sebelumnya. Pandemi virus Corona telah membuat kita takut
untuk berjabat tangan, dan merasa aman dengan menjaga jarak, dan bersamaan
dengan itu muncul kesadaran bahwa kesehatan dan kehidupan adalah yang paling
penting.
Semakin
berjalannya waktu masyarakat pun mulai beradaptasi untuk dapat bertahan
menghadapi perubahan cepat yang ditimbulkan oleh pandemi. Pandemi telah
mengubah cara kita bekerja, belajar, dan berinteraksi karena social
distancing telah mengarahkan kita pada keberadaan yang lebih virtual.
Kita pun mulai beradaptasi mulai dari secara fisik hingga digital. Banyak yang
menduga kebiasaan-kebiasaan baru ini akan memiliki efek permanen pada gaya
hidup kita setelah pandemi berakhir.
Seperti
Amelia, perempuan 20 tahun ini merasakan dampak signifikan akibat pandemi
COVID-19 dalam kehidupan sosialnya. Sebab, mahasiswa asal IAIN Palangkaraya, Kalimantan
Tengah ini sangat merasakan bagaimana pandemi ini membuat perekonomian
keluarganya tidak stabil, sehingga membuatnya mencari cara untuk menambah
penghasilan dengan berjualan secara online. “Pada masa seperti ini, orang
cenderung berbelanja secara online karena kegiatan diluar rumah sangat
dibatasi, maka dari itu ini menjadi peluang saya untuk menambah penghasilan,”
ungkapnya. Meskipun begitu, terkadang ia khawatir saat harus mengantarkan
pesanan kepada pembelinya, baik mengirim melalui kurir maupun cash on
delivery, karena pada saat ini ia terpaksa harus keluar rumah. “Saya juga
takut kesehatan saya menurun akibat pesanan yang membludak, ditambah kuliah
online yang harus saya jalani keduanya”. Walaupun begitu, Amelia tetap mentaati
arahan dari pemerintah untuk selalu mengikuti protokol kesehatan.
Berbeda
dengan Amelia, Sartika merasakan kehidupan kampusnya sangat terhambat akibat
pandemi yang menduduki Indonesia ini sejak Maret 2020. “Kuliah pada saat
pandemi serba online, tugas banyak, praktek pun tidak ada, jadi materi yang
disampaikan oleh dosen sulit untuk saya pahami,” keluhnya. Sebagai mahasiswa
yang aktif dalam organisasi, Sartika mengaku ia rindu dengan kegiatan berkumpul
dan bersilaturahmi bersama dengan teman dan juga kerabatnya. “Tapi karena ini
untuk saling menjaga dan mencegah penularan, saya tetap ikuti anjuran
pemerintah untuk tidak berkumpul dan membuat kerumunan,” pungkasnya. Ia mengaku
merasa sedih dengan kondisi saat ini, karena rutinitas yang ia jalani selama
bertahun- tahun kini dijalankan dengan cara berbeda, yaitu secara daring.
“Namun seiring berjalannya waktu, saya bisa memahami aturan ini dilakukan bukan
tanpa sebab, melainkan untuk kebaikan bersama agar penularan COVID-19 tidak
meluas,” ujarnya.
Pandemi
ini memberikan dampak kepada seluruh sektor baik pendidikan, kesehatan, bahkan
ekonomi. Kita bisa belajar dari Amelia dan Sartika bahwa di masa ini kita bisa
mengambil hikmah dan peluang untuk tetap beradaptasi pada situasi dan keadaan
yang ada, karena sejatinya manusia merupakan makhluk yang dapat beradaptasi
dengan lingkungan baru secara cepat. Meskipun banyak hal yang membuat kebiasaan
sehari-hari kita menjadi terganggu bahkan berubah, tetapi selalu ada cara untuk
mengatasinya dan tetap mensyukuri kondisi yang ada.
Maya Wulan Lukitasari
Kasyif Al Ghita Indah
0 Comments