Nekat Bisnis Kopi
Memutuskan untuk
terjun ke dunia bisnis tidak hanya butuh modal, tapi juga perlu kenekatan,
keberanian dan strategi dalam melihat peluang. Tidak hanya itu berbisnis juga
bisa dimulai dari hobi atau kesukaaan terhadap suatu hal.
Hal tersebutlah
yang menjadi latar belakang Anas, Linggar, Fian dan Hago untuk membuka kedai
kopi, berawal dari kesukaan mereka nonggkrong dan minum kopi yang pada akhirnya
dimanfaatkan untuk berbisnis.
“pada awal kami
suka nongkrong dan minum kopi, dan kami bosan nongrong ditempat yang sama,
akhirnya kami kepikiran untuk membuka warung kopi yang bisa buat kami nongkrong
sendiri dan sekalian berjualan kopi” ujar linggar sebagai Chief Marketing Officer Warkop Brewok
diawal berdirinya
warkop brewok ,mereka berempat sudah mendapatkan hambatan salah satunya orang
tua yang kurang mendukung mereka untuk membuka warung kopi, karena waktu itu
mereka masih berstatus mahasiswa.
Selain itu modal
juga menjdi hambatan mereka dalam mengembangkan bisnis warung kopi. “kami hanya
modal nekat saja, yakin dan fokus terhadap tujuan kami, masalah modal kami
menyisihkan uang jajan kami dan menghemat pengeluaran untuk dijadikan modal
membuka Warkop Brewok ini” ujar Anas Bahar.
Masih Muda
Pada bulan Juli
2016 mereka resmi membuka warung kopi di Jl Kedawung No 93 Malang dengan
menyewa sebuah rumah dengan luas 133 meter persegi. Pada awal pembukaan masih
beberapa orang teman saja yang berkunjung dan lama lama hingga satu bulan pertama
lumayan banyak pengunjung.
Untuk melayani
pengunjung, mereka bekerja secara bergantian dan dijadwal secara shifting karena disesuaikan dengan jadwal kuliah mereka, mengingat statusnya
masih mahasiswa.
“kami berempat
waktu itu masih mahasiswa, umur baru 22 tahun tidak ada background bisnis, tapi
walaupun kami masih muda kami punya keyakinan dan fokus untuk mengerjakan apa
yang kami lakukan, cintailah passion-mu”
sahut linggar.
Omset Rp 350 Juta Perbulan
Warkop Brewok
diawal awal pendirian masih mengalami kesulitan, dengan pendapatan bersih Rp
4.000 per harinya. Pendapatan yang
diperoleh dari Warkop Brewok meningkat
setelah beberapa bulan berjalan.
Seiring
berjalananya waktu setelah pungunjung stabil dan pendapatan yang mereka peroleh
meningkat serta semakin membludaknya pengujung warkop brewok di Jalan Kedawung
, akhirnya mereka memutuskan untuk membuka Warkop Brewok II.
Warkop Brewok II
yang berada di Jalan Candi Mendut No 37 Kota Malang, menempati luas lahan 650
meter persegi ini mampu menampung 500 pengunjung setiap harinya.
“dibukanya Warkop
Brewok II merupakan bentuk Inovasi kami untuk menampung banyaknya pengunjung
yang tidak tertampung di Warkop Brewok I, dan alhamdulilah omzet yang kita
hasilkan sekarang dari Warkop Brewok I dan II sudah mencapai Rp 350 juta per
bulanya” tangkas anas.
Caffee Beer Kapiten dan Kue Pancong
Yang menjadi ciri
khas dari Warkop Brewok adalah Caffee
Beer Kapiten dan Kue Pancong. Caffe
Beer Kapiten dijual dengan harga Rp 12.000
punya rasa manis yang lumayan tajam dengan soda yang tidak terlalu
nendang serta rasa kopi yang halus dan kuat.
Caffee Beer Kapiten
ini merupakan favorite pengunjung dan
didalamnya tidak terdapat kandungan alkohol atau 0% alkohol. Kemasannya juga
semakin menambah image macho. Secara
keseluruhan caffee beer kapiten sangat
cocok untuk diminum bersama teman teman ketika nongkrong.
Selain itu Kue
Pancong di Brewok ini juga spesial, karena kue pancong ini merupakan signature culinary yang menjadi jualan
utama Warkop Brewok. Kita bisa melihat jelas di logo Warkop Brewok yang bertuliskan “Spesial Pancong” .
Kue Pancong
dibanderol dengan harga lima ribu rupiah hingga dua belas ribu rupiah
tergantung varian yang dipilih. Kue Pancong merupakan makanan khas daerah
bekasi yang terbuat dari tepung. Mereka menciptakan sendiri adonan Kue Pancong
sehingga terasa pas untuk ukuran anak muda.
“Kami terus bereksperimen mencari formula terbaik
untuk kue pancong, kami pernah mencoba
sampai 50 kali percobaan hingga menemukan kue pancong yang enak hingga saat
ini” ujar linggar
Warkop Brewok juga
menyediakan berbagai minuman Kopi Tradisional dengan harga lima rinbu rupiah
hingga delapan ribu rupiah yang berasal dari petani kopi di Lumajang,
Tulungagung dan Trenggalek. Untuk minuman lainya seperti Cappocinno, Chocolate,
Teh, Susu dll, dibanderol dengan harga Rp 4.000 hingga Rp 15.000 . (Ekbar)

0 Comments