Mengintip Alur Kisah Kesenian "Reog Ponorogo"

Sumber : Liputan6.com

Budaya dan kesenian tak hanya memiliki keindahan. Salah satu hal yang menjadikan suatu budaya dan kesenian sangat istimewa adalah adanya alur kisah yang terdapat didalamnya. Sebagai suatu kesenian yang populer, Reog ponorogo menyimpan suatu kisah yang sarat akan nilai kehidupan.

            Sebagai negara yang memiliki keberagaman seni dan budaya, Indonesia merupakan primadona dimata dunia dan menjadi incaran para wisatawan baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Selain memiliki hamparan pemandangan indah yang menyejukkan mata, Indonesia juga memiliki kesenian yang sangat menakjubkan. Salah satu kesenian yang dimiliki oleh negara Indonesia adalah Reog Ponorogo. Sesuai dengan namanya, kesenian ini berasal dari Kabupaten Ponorogo Jawa Timur.
Ciri khas dari kesenian Reog ini adalah penampilan pembarong yang perkasa yang mengangkat dadak merak dengan kekuatan giginya. Dadak merak adalah topeng berbentuk kepala harimau dengan hiasan ratusan helai bulu burung merak setinggi dua meter yang mana beratnya hampir mencapai 50 kilogram. Adapun pendamping reog itu sendiri terdiri dari sejumlah warok tua dan muda, Prabu Kelono Suwandono, beberapa penari Bujang Ganong yaitu penari yang memakai topeng dan barisan penari jathil yaitu barisan penari wanita yang berpakaian seperti pasukan pria dan membawa kuda mirip dengan kuda lumping. Jumlah penari dalam pertunjukkan reog bisa berkisar 20 hingga 30 orang. Instrumen pengiring pertunjukkan reog yaitu kempul, ketuk, kenong, genggam, ketipung, angklung dan yang paling penting yaitu salompret yang mana menyuarakan nada slendro dan pelog yang menimbulkan kesan unik dan eksotis di setiap pertunjukkan reog.
Dibalik keindahan pertunjukkan seni Reog Ponorogo, adapula kisah yang menyelimuti kemegahan pertunjukkannya. Diceritakan pada abad ke 15, Kerajaan Majapahit hampir mengalami keruntuhan karena buruknya kepemimpinan sang Raja. Raja Brawijaya V terlalu tunduk kepada permaisurinya yang bernama Putri Campa yang berasal dari Tiongkok. Sang Penasihat Raja bernama Suryongalam merasa tidak puas dan memilih untuk meninggalkan kerajaan dan membangun padepokan sendiri. Suryongalam merubah namanya menjadi Ki Ageng kutu yang mana telah melatih beberapa murid untuk dijadikan pasukan dan melakukan pemberontakan kepada Raja. Namun, Ki Ageng menyadari bahwa dia tak akan mampu mengalahkan sang Raja karena jumlah pasukannya tak sebanding dengan pasukan Raja. Akhirnya, dia menciptakan suatu kesenian yang bertujuan untuk menyindir Raja Brawijaya. Kepala harimau dipilihnya karena merupakan binatang paling perkasa dihutan jawa yang mana sebagai symbol sang raja yang perkasa. Sedangkan burung merak merupakan burung paling indah dihutan yang merupakan symbol dari sang permaisuri yang cantik jelita. Barisan penari berkuda digambarkan sebagai jumlah pasukan dari kerajaan Majapahit, sedangkan Ki ageng sendiri digambarkan sebagai penari bujang ganong yang sedang meledek sang Raja. Singkat cerita, Raja Brawijaya berhasil mengatasi pemberontakan yang dilakukan oleh mantan penasihatnya. Namun, beberapa murid Ki Ageng diam-diam masih melanjutkan tradisi kesenian Reog dan sampai sekarang dikenal dengan seni budaya Reog Ponorogo.
Adapun versi lain dari alur kisah Reog Ponorogo yang begitu terkenal dijaman sekarang yaitu kisah cinta antara Dewi Sanggalangit dari Kerajaan Kediri dan Raja Kelana Swandana dari Kerajaan Bandarangin. Pada Awalnya Raja Kediri meminta putri satu-satunya tersebut untuk segera menikah. Namun, sang putri meminta ayahnya untuk mengadakan suatu sayembara. Sebenarnya, sang raja merasa aneh terhadap permintaan putrinya karena sayembara tersebut tidak masuk akal. Sang putri meminta sebuah pertunjukkan yang belum pernah ada sebelumnya. Semacam tarian dengan iringan seratus empat puluh ekor kuda kembar dan binatang berkepala dua. Para pangeran dan raja yang berniat mempersunting sang putri seketika banyak yang mundur satu persatu karena mereka merasa syarat tersebut terlalu mustahil untuk dilakukan. Pada akhirnya tersisa dua orang yang tetap berdiri menerima syarat tersebut yaitu Raja Singobarong dari Kerajaan Lodaya dan Raja Kelana Swandana dari Kerajaan Bandarangin. Sebenarnya, Raja Kediri sangat ragu karena dua orang raja tersebut sangat aneh. Yang pertama, Raja Singobarong adalah seorang raja yang berwatak sangat kejam, selain itu dia adalah seorang manusia yang berkepala harimau, kepalanya penuh dengan kutu sehingga dia memelihara seekor burung merak yang selalu bertengger di pundaknya untuk mematuki kutu-kutunya. Yang kedua adalah Raja Kelana Swandana yang merupakan sosok raja yang berwajah sangat tampan dan berperawakan gagah namun dia memiliki kebiasaan buruk yaitu menyukai anak laki-laki.
Singkat cerita, kedua raja tersebut bersaing untuk mewujudkan syarat yang diminta oleh Dewi Sanggalangit. Suatu hari, Raja Singobarong meminta patihnya untuk menyelidiki perkembangan lawannya karena dia tidak ingin kalah dari Raja Kelana Swandana. Setelah berhasil memata-matai, sang patih segera kembali untuk melapor kepada Raja Singobarong. Sang patih melaporkan bahwa Raja Kelana Swandana telah berhasil mengumpulkan hampir semua syarat kecuali binatang berkepala dua. Raja Singobarong seketika itu langsung berencana untuk menyerang Raja Kelana Swandana. Dia lalu memerintahkan patihnya dan semua pasukannya untuk bergegas berangkat menyerang dan merebut hasil usaha Raja Kelana Swandana. Sambil menunggu laporan selanjutnya, dia bersantai di Istana sambil menikmati burung merak yang mematuki kutu-kutunya. Tak terasa, kenikmatan burung merak membuatnya mengantuk dan akhirnya dia pun tertidur. Dia tak menyadari bahwa keadaan diluar istana sudah tidak bisa terkendali.
Pertempuran besar terjadi, pertumpahan darah tak bisa terelakkan. Namun, Raja Kelana Swadana dan pasukannya berhasil mengalahkan semua pasukan dari Raja Singobarong. Raja Kelana Swandana akhirnya bisa menerobos masuk ke dalam istana dan membuat Raja Singobarong terbangun dari tidurnya. Akan tetapi, dia kesulitan untuk melawan Raja Kelana Swandana karena burung merak yang bertengger di pundaknya membuatnya tak bisa leluasa bergerak. Merak tersebut masih asik mematuki kutu-kutu dikepalanya. Melihat pemandangan tersebut, Raja Kelana Swandana menyadari sesuatu bahwa dia telah menemukan binatang berkepala dua yaitu harimau dan merak. Lalu, dengan kesaktiannya dia mengeluarkan cambuk dan memukulkannya ke tubuh Raja Singobarong. Niat jahat Raja Singobarong untuk mengalahkan Raja Kelana Swandana pun gagal. Kecurangan yang dia rencanakan mendatangkan petaka bagi dirinya. Cambuk sakti milik Raja Kelana Swandana membuat burung merak tersebut menempel jadi satu dengan kepala Raja Singobarong. Dia pun tak dapat berbicara lagi layaknya manusia dan kehilangan akalnya. Raja Kelana Swandana akhirnya berhasil merampungkan semua syarat yang diminta oleh Dewi Sanggalangit.
Pada hari yang ditentukan, datanglah Raja Kelana Swandana beserta iringan kesenian yang luar biasa, dengan pasukan kuda kembar berjumlah seratus empat puluh ekor dengan iringan gamelan, terompet aneh yang menimbulkan perpadukan suara yang khas dan merdu. Ditambah lagi adanya binatang aneh dengan dua kepala yaitu harimau dan merak. Melihat keberhasilan sang raja, Dewi Sanggalangit pun bersedia dipersunting oleh sang Raja. Kebiasan buruk sang rajapun berhasil disembuhkan berkat cinta kasih dari Dewi Sanggalangit.
Demikianlah dua versi alur kisah reog ponorogo yang berkembang di masyarakat. Hingga kini, Kota Ponorogo terus mengembangkan kesenian budaya reog agar tidak punah dimakan zaman. Bahkan di beberapa kota juga turut andil untuk melestarikan kesenian reog ponorogo yang sangat istimewa ini. Salah satu kota yang melestarikan kesenian reog ponorogo adalah kota Malang. (afa)

Post a Comment

0 Comments