Desa Pujon Kidul di Kabupaten Malang, Jawa Timur, dulunya seperti desa lain yang didominasi oleh sawah yang tidak terlalu subur.
Namun, berkat dedikasi penduduk desa yang penuh semangat selama dua tahun terakhir, desa seluas 323.159 hektar telah berubah menjadi desa wisata yang populer di kalangan wisatawan.
"Perubahan di desa dimulai dengan upaya saya untuk memperbaiki pengelolaan air bersih di desa pada tahun 2015 menggunakan konsep desa wisata," kata kepala desa Pujon Kidul Udi Hartoko, yang telah memimpin penduduk sejak 2011, mengatakan kepada The Jakarta Post pada hari Jumat.
Udi mengatakan tidak banyak orang yang awalnya tertarik pada gagasan itu, namun ia terus mendorongnya dengan berbicara langsung kepada orang-orang di tiga dusun desa itu.
"Saya datang kepada mereka untuk mendengarkan apa yang mereka inginkan, meminta mereka untuk berbagi ide mereka sendiri, termasuk tentang bagaimana mengembangkan pariwisata di desa," katanya.
Setelah usahanya, penduduk setempat mulai menanggapi secara positif, bahkan dengan membuka kafe dengan pemandangan sawah dan bukit-bukit di sekitar desa.
Baru-baru ini Kafe Sawah seluas 7.000 meter persegi telah menjadi salah satu ikon desa, dan telah menarik wisatawan, terutama setelah manajemen menambahkan beberapa fasilitas tambahan seperti gazebo dan taman bermain. Pengunjung hanya diharuskan untuk membeli tiket seharga Rp 5.000 (kurang dari 50 sen) per orang, yang dapat ditukar dengan makanan dan minuman dari beberapa kios di lokasi.
Tujuannya dilaporkan menerima sekitar 500 pengunjung setiap hari pada hari kerja, dan hingga 3.000 wisatawan berkumpul di sana pada akhir pekan.
Udi mengatakan Kafe Sawah adalah salah satu perusahaan milik Desa Sumber Sejahtera (BUMDes) di Pujon Kidul yang menerima dananya dari Bank Negera Indonesia (BNI).
"Kami mengembangkan konsep ini menggunakan dana Rp 56 milllion dari program BUMDes pada 2015. Setelah kerja keras kami, pendapatan kami pada 2017 mencapai Rp 5,35 miliar," kata Udi.
Pendapatan desa telah meningkat secara signifikan dari hanya Rp 30 juta menjadi Rp 530 juta per tahun.
Udi mengatakan desa lain di Kabupaten Malang tidak perlu takut untuk memulai BUMDes. "Undang-undang dan peraturannya sangat jelas, asalkan dikelola secara transparan dan bertanggung jawab. Karena penduduk setempat akan menjadi pemilik, pengusaha dan manajer, mereka harus dilibatkan dalam perencanaan, pelaksanaan dan pelaporan," tambahnya.
Berbagai penghargaan nasional dilaporkan telah diberikan kepada desa, yang memiliki populasi hanya 4.146.
Namun, Udi menceritakan bahwa warga masih terjebak dalam euforia ekonomi, sehingga ia berusaha keras mengembangkan wisata konservasi alam dan budaya untuk menjaga keseimbangan dan menghindari kepunahan kearifan lokal.
"Upaya ini penting untuk keberlanjutan BUMDes itu sendiri," katanya. (kes)

0 Comments